Analisis Film As Good As Its Gets beserta Penjelasan OCD (Obsessive Compulsive Disorder)
A. Pengertian OCD ( Obsessive
Complusive Disorder )
Gangguan Obsesif-kompulsif
(Obsessive-Compulsive Disorder, OCD) adalah kondisi dimana individu tidak mampu
mengontrol dari pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi yang sebenarnya tidak
diharapkannya dan mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat
mengontrol pikirannya tersebut untuk menurunkan tingkat kecemasannya. Gangguan
obsesif-kompulsif merupakan gangguan kecemasan dimana dalam kehidupan individu
didominasi oleh repetatif pikiran-pikiran (obsesi) yang ditindaklanjuti dengan
perbuatan secara berulang-ulang (kompulsi) untuk menurunkan kecemasannya.
Penderita gangguan ini mungkin telah berusaha
untuk melawan pikiran-pikiran menganggu tersebut yang timbul secara
berulang-ulang akan tetapi tidak mampu menahan dorongan melakukan tindakan
berulang untuk memastikan segala sesuatunya baik-baik saja.
B.
Manifestasi
Klinis
Individu yang mengalami
gangguan obsesif-kompulsif kadang memilki pikiran intrusif tanpa tindakan
repetatif yang jelas akan tetapi sebagian besar penderita menunjukkan perilaku
kompulsif sebagai bentuk lanjutan dari pikiran-pikiran negatif sebelumnya yang
muncul secara berulang, seperti ketakutan terinfeksi kuman, penderita gangguan
obsesif-kompulsif sering mencuci tangan (washer) dan perilaku umum lainnya
adalah memeriksa (checker) seperti rasa cemas akan kemalingan, penderita
gangguan obsesif-kompulsif sering memeriksa pintu apakah sudah dikunci apa
belum.
Beberapa
bentuk perilaku gangguan obsesif-kompulsif lainnya adalah;
Ø Mandi dan menggosok badannya secara berkali-kali dengan sabun
disinfektan (cemas akan bakteri atau kuman yang dapat membuatnya terinfeksi)
Ø Memeriksa kompor berulang-ulang apakah sudah dimatikan (cemas akan
kebakaran)
Ø Memeriksa toilet apakah ada binatang atau serangga hidup di dalamnya
atau terjatuh kedalam toilet (cemas untuk membunuh makhluk hidup)
Ø Mengulang pekerjaannya berkali-kali apakah sudah bagus (kecemasan
perfeksionis)
Ø Memeriksa mobilnya berkali-kali selama perjalanan (kecemasan unutuk
tidak melukai orang lain)
Ø Menyisir berkali-kali di depan cermin (cemas akan penampilan tidak
rapi)
Ø Mengulang berhitung berkali-kali (cemas akan kesalahan pada urutan
bilangan)
Gangguan obsesif-kompulsif
tidak ada kaitan dengan bentuk karakteristik kepribadian seseorang, pada
individu yang memiliki kepribadian
obsesif-kompulsif cenderung untuk bangga dengan ketelitian, kerapian
dan perhatian terhadap hal-hal kecil, sebaliknya pada gangguan
obsesif-kompulsif, individu merasa tertekan dengan kemunculan perilakunya yang
tidak dapat dikontrol. Mereka merasa malu bila perilaku-perilaku tersebut
dipertanyakan oleh orang yang melihatnya karena melakukan pekerjaan yang secara
berulang-ulang. Mereka berusaha mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan
tersebut.
Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan
dengan depresi,
atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif
seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi. Perilaku yang
obsesif pada ibu depresi berusaha berkali-kali atau berkeinginan untuk membunuh
bayinya.
C.
Temuan
fisik gejala
Gejala ditandai dengan
pengulangan (repetatif) pikiran dan tindakan sedikitnya 4 kali untuk satu
kompulsi dalam sehari dan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu selanjutnya.
Gejala utam obsesi-kompulsif harus memenuhi kriteria;
·
Perilaku dan pikiran yang muncul
tersebut disadari sepenuhnya oleh individu atau didasarkan pada impuls dalam dirinya
sendiri. Individu juga menyadari bahwa perilakunya itu tidak rasional, namun
tetap dilakukan untuk mengurangi kecemasan.
·
Beberapa perilaku yang muncul
disadari oleh oleh individu dan berusaha melawan kebiasaan dan pikiran-pikiran
rasa cemas tersebut sekuat tenaga, namun tidak berhasil
·
Pikiran dan tindakan tersebut
tidak memberikan perasaan lega, rasa puas atau kesenangan, melainkan disebabkan
oleh rasa khawatir secara berlebihan dan mengurangi stres yang dirasakannya.
·
Obsesi (pikiran) dan kompulsi (perilaku)
sifatnya berulang-ulang secara terus-menerus dalam beberapa kali setiap
harinya.
D.
Faktor
Risiko
Individu yang beresiko mengalami
gangguan obsesif-kompulsif adalah
·
Individu yang mengalami
permasalahan dalam keluarga dari broken home, kesalahan atau kehilangan
masa kanak-kanaknya. (teori ini masih dianggap lemah namun masih dapat
diperhitungkan)
·
Faktor neurobilogi dapat berupa
kerusakan pada lobus frontalis, ganglia basalis dan singulum
·
Individu yang memilki intensitas stress yang tinggi
·
Riwayat gangguan kecemasan
·
Depresi
·
Individu yang mengalami gangguan
seksual
E.
Pengobatan
1. Psikoterapi, Psikoterapi untuk gangguan obsesif-kompulsif umumnya
diberikan hampir sama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ada beberapa faktor
OCD sangat sulit untuk disembuhkan, penderita OCD kesulitan mengidentifikasi
kesalahan (penyimpangan perilaku) dalam mempersepsi tindakannya sebagai bentuk
penyimpangan perilaku yang tidak normal. Individu beranggapan bahwa ia normal-normal saja walaupun perilakunya itu
diketahui pasti sangat menganggunya. Baginya, perilaku kompulsif tidak salah
dengan perilakunya tapi bertujuan untuk memastikan segala sesuatunya berjalan
dengan baik-baik saja. Faktor lain adalah kesalahan dalam penyampaian informasi
mengenai kondisi yang dialami oleh individu oleh praktisi secara tidak tepat
dapat membuat individu merasa enggan untuk mengikuti terapi.
2. Cognitive-behavioural therapy (CBT) adalah terapi yang sering digunakan dalam
pemberian treatment pelbagai gangguan kecemasan termasuk OCD. Dalam CBT
penderita OCD pada perilaku mencuci tangan diatur waktu kapan ia mesti mencuci
tangannya secara bertahap. Bila terjadi peningkatan kecemasan barulah terapis
memberikan izin untuk individu OCD mencuci tangannya. Terapi ini efektif
menurunkan rasa cemas dan hilang secara perlahan kebiasaan-kebiasaannya itu.
Dalam CBT terapis juga melatih pernafasan, latihan relaksasi dan manajemen
stres pada individu ketika menghadapi situasi konflik yang memberikan
kecemasan, rasa takut atau stres muncul dalam diri individu. Pemberian terapi
selama 3 bulan atau lebih.
3. Farmoketarapi, Pemberian obat-obatan medis
berserta psikoterapi sering dilakukan secara bersamaan dalam masa perawatan
penderita OCD. Pemberian obat medis hanya bisa dilakukan oleh dokter atau
psikiater atau social worker yang terjun dalam psikoterapi. Pemberian
obat-obatan haruslah melalui kontrol yang ketat karena beberapa dari obat
tersebut mempunyai efek samping yang merugikan. Obat medis yang digunakan dalam
pengobatan OCD seperti;
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat mengubah level serotonin dalam otak, jenis obat SSRIs ini adalah Fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram (Lexapro), paroxetine (Paxil), dan citalopram (Celexa).
Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) yang dapat mengubah level serotonin dalam otak, jenis obat SSRIs ini adalah Fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram (Lexapro), paroxetine (Paxil), dan citalopram (Celexa).
4. Trisiklik (Tricyclics). Obat jenis trisiklik berupa clomipramine (Anafranil). Trisiklik
merupakan obat-obatan lama dibandingkan SSRIs dan bekerja sama baiknya dengan
SSRIs. Pemberian obat ini dimulai dengan dosis rendah. Beberapa efek pemberian
jenis obat ini adalah peningkatan berat badan, mulut kering, pusing dan
perasaan mengantuk.
5.
Monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). Jenis obat
ini adalah phenelzine (Nardil), tranylcypromine (Parnate) dan isocarboxazid
(Marplan). Pemberian MAOIs harus diikuti pantangan makanan yang berkeju atau
anggur merah, penggunaan pil KB, obat penghilang rasa sakit (seperti Advil,
Motrin, Tylenol), obat alergi dan jenis suplemen. Kontradiksi
dengan MOAIs dapat mengakibatkan tekanan darah tinggi.
Sebagai
penderita gangguan obsesi-kompulsif, Mr. Udall memiliki berbagairitualitas,
salah satunya yaitu makan di restoran yang sama, dengan tempat duduk yang sama,
pada jam yang sama, dan dilayani oleh pramusaji yang sama pula, yaitu Carol
(Helent Hunt).
Kehidupan
dalam ritualitas obsesi-kompulsifnya mulai berubah ketika tetangganya, Simon
(Greek Kinnear) yang juga seorang seniman mengalami musibah. Simon menjadi
korban perampokan dan penganiyaan sehingga harus menjalani perawatan di rumah
sakit. Anjing Simon yang bernama verdell terpaksa harus dititipkan kepada orang
lain. Oleh karena tidak ada yang mau memelihara anjing itu untuk sementara
waktu akhirnya manager Simon memaksa Mr. Udell untuk memeliharanya. Pada
awalnya Mr. Udall tidak menyukai verdell, namun seiring dengan waktu akhirnya
Mr. Udall sangat akrab dengan verdell. Bahkan anjing itu lebih memilih Mr.
Udall daripada pemiliknya sendiri yaitu Simon.
Suatu
hari ritualitasnya terganggu ketika Carol tidak masuk melayani Mr. Udall makan
di restoran itu seperti biasanya. Keterikatannya membuat Mr. Udall mencari tahu
penyebab ketidakhadiran Carol. Perasaan cinta dan ketertarikannya yang tidak
disadari Mr. Udall pada Carol membuat ia tergugah untuk menolong masalah yang
dialami Carol dengan membiayai seluruh pengobatan anak Carol.
Carol
pun sangat berterima kasih dengan hal itu meskipun sebenarnya ia tidak
menyenangi sifat – sifat Mr. Udall. Di lain pihak Mr. Udall juga kasihan dengan
Simon, tetangganya yang mengalami kebangkrutan dan kesepian. Tawaran manager
Simon untuk mengantarkan Simon ke kota asalnya agar Simon bisa meminta uang
kepada orang tuanya, diterima oleh Mr. Udall dengan motif untuk bisa berdekatan
dengan Carol yang ikut dalam perjalanan itu. Pada awalnya Mr. Udall senang
karena semua berjalan sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkannya. Namun
kedekatan Carol dengan Simon membuat Mr. Udall tidak bisa mengelak bahwa dia
mencintai Carol.
Akhir
kisah ini yaitu Mr. Udall memberanikan dirinya untuk membuat suatu perubahan
kecil dan keluar dari ritualitasnya dengan mengatakan kebaikan orang lain demi
cintanya pada Carol. Dalam film ini ditunjukkan bagaimana cinta dan kedekatan
dengan orang lain dapat mengubah perilaku seseorang sekalipun ia menderita
gangguan obsesi-kompulsif yang parah.
G. Analisis
Film As Good as it’s get
Menurut Kamus Lengkap Psikologi J.P
Chaplin (2001), pengertian obsessive-compulsive neorosis yaitu :
suatu psiko-neurosa
dengan ciri khas adanya ide (obsesi) yang tegar melekat dan sering tidak dikehendaki, serta impuls
untuk melakukan kompulsi, atau perbuatan yang tidak rasional, stereotypis, dan
ritualistis. Diyakini bahwa pola tingkah laku yang obsesi dan kompulsif itu
merupakan usaha untuk mengatasi rasa takut atau untuk meredakan atau
menghilangkan perasaan bersalah.
Dalam Pedoman
Penggolongan dan Gangguan Jiwa (PPDGJ) edisi ke III, gangguan
obsesif-kompulsif digolongkan dalam gangguan neurotik dengan kode F.42.
Sedangkan dalam “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders” edisi
keempat (DSM-IV) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA),
gangguan obsesif kompulsif digolongkan ke dalam kelompok gangguan kecemasan.
Namun, sejumlah penelitian menyebutkan bahwa gangguan obsesif kompulsif
bertumpang tindih dengan depresi. Artinya, gangguan obsesif kompulsif
berkaitan dengan perasaan negatif yang kuat, meliputi kecemasan dan juga
kemurungan. Perasaan seperti rasa bersalah, rasa tidak berdaya, dan ketakutan
irasional hampir selalu menyertai gangguan ini. Jadi, gangguan akan
makin sulit diatasi bila perasaan yang menyertainya makin mengkristal.
Penyandang
gangguan obsesif kompulsif sangat tersiksa oleh pikiran-pikiran yang terus
menerus memaksanya melakukan tindakan tertentu secara berulang tanpa ia
kehendaki. Pikiran yang terus berulang dan sulit ditepis ini yang disebut
sebagal obsesi. Bila pikiran ini sudah diwujudkan dalam bentuk tindakan
berulang –yang sebenarnya tidak perlu, tidakan inilah yang disebut kompulsi.
Penderita biasanya menyadari bahwa tindakannya berlebihan dan menghambat
aktivitas sehari-hari. Namun, kesadaran penderita akan ketidakefektivan
perilakunya tak secara otomatis membuatnya mampu melepaskan diri dari
tindakan-tindakan aneh ini. Ada kalanya usaha yang keras menghindarkan gangguan
pikiran seperti ini justru mengakibatkan penderita makin terjebak dalam ritual
yang mungkin lebih parah lagi.
Beberapa
gangguan di otak, seperti misalnya infeksi, cedera, dan tumor otak dapat turut
menyumbang terjadinya gangguan obsesif kompulsif. Selain itu, faktor genetik
juga diduga memberi sumbangan sekitar 30 persen pada jumlah penderita gangguan
ini. Faktor psikologis yang bisa menyebabkan ganguan obsesi kompulsif ini yaitu
kecemasan yang sangat ekstrem dan traumatik sehingga menimbulkan obsesi yang
berlanjut pada perilaku kompulsi.
Diperkirakan
penderita gangguan obsesif kompulsif dialami oleh 2-3 persen dari populasi di
seluruh dunia. Mereka yang hidup terpisah dari pasangannya, janda atau duda,
dan penganggur mempunyai risiko lebih besar menderita gangguan ini. Gangguan
obsesif kompulsif sering terpicu kemunculannya oleh peristiwa yang menimbulkan
stres cukup besar bagi penderita, seperti misalnya terjadinya kehamilan,
kematian kerabat dekat, dan sebagainya. Karena itu beberapa penderita mampu
secara jelas mengisahkan sejak kapan mereka mulai melakukan perilaku ritual
yang tidak menyenangkan ini.
Gangguan
obsesif kompulsif biasanya telah menampakkan gejalanya pada saat penderita
menginjak usia remaja atau dewasa awal. Meski demikian beberapa orang telah
memunculkan gejalanya sejak usia kanak-kanak.
Simpton – simpton yang ditunjukan oleh penderita gangguan obsesi
kompulsif, antara lain :
1. adanya obsesi, yaitu ide – ide atau
impuls yang berulang kali muncul dan menetap dalam pikiran yang biasanya tidak
rasional. Misalnya tangan saya akan terkontaminasi penyakit maka saya harus mencucinya
segera, atau saya mungkin tidak mengunci rumah dengan benar maka saya harus
mengeceknya lagi. Biasanya obsesi ini akan diikuti oleh kompulsi untuk
melakukan suatu perbuatan/perilaku. Dalam film itu Mr. Udall cemas dan takut
jika tubuhnya kotor jika melakukan kontak dengan dunia di luar rumahnya.
2. adanya kompulsi, yaitu perilaku akibat
obsesi yang dilakukan berulang kali. Perilaku kompulsi yang sering ditemui
adalah mencuci dan mengecek. Beberapa perilaku kompulsi lainnya dapat berupa
mengulangi suatu perilaku, menghitung ulang, dan mengatur kembali suatu barang.
Kompulsi yang tampak dalam diri Mr. Udall,yaitu :
·
menggunakan sarung tangan sekali
pakai tiap keluar rumah
·
mengunci pintu beberapa kali
·
menyalakan lampu beberapa kali
·
mencuci tangan dengan sabun lebih
dari 2 kali
·
selalu memilih jalan yang bersih
·
tidak mau disentuh oleh orang lain
·
membawa alat makannya sendiri yang
sekali pakai, dan mengaturnya dalam posisi tertentu yang sama.
·
memiliki ritualitas jadwal
kegiatan yang ketat, misalnya datang ke restoran pada jam yang sama, makanan
yang sama, dan disajikan oleh pelayan yang sama.
Stressor
atau kejadian yang membuat Mr. Udall mengalami gangguan obsesif kompulsif
adalah pengalaman masa kecilnya dimana ayahnya tidak keluar kamar selama 11 tahun
karena sebelumnya selalu memukul tangan Mr. Udall jika ia melakukan kesalahan
dalam bermain piano. Pengalaman itu membuat Mr. Udall secara tidak sadar merasa
sangat bersalah sehingga menjadi peristiwa traumatik dalam kehidupan Mr. Udall
yang akhirnya menimbulkan perilaku obsesi-kompulsif.
Karakter
Mr. Udall adalah pemarah, suka mencampuri urusan orang lain, kasar dalam
berperilaku, berani mengganggu orang lain untuk mendapatkan apa yang
diinginkan. Ini tampak ketika kursi tempat ia biasa duduk digunakan oleh orang
lain, Mr. Udall mengganggu orang tersebut sampai ia berhasil mendapatkan kursi
itu. Karakter lainnya yaitu suka berprasangka dan menyindir orang lain dengan
kata – kata yang pedas. Mr. Udall juga seorang pecemburu, iri hati terhadap
orang lain karena merasa tidak pernah beruntung, dan sulit memuji atau menilai
kebaikan orang lain.
Beberapa treatmen yang diberikan pada penderita gangguan obsesif
kompulsif, yaitu :
1. Terapi obat, Jika kita melihat film
tersebut, Mr. Udall harus minum beberapa pil obat dalam jangka waktu tertentu.
Obat – obatan yang biasanya digunakan yaitu flouxetine (ProzacR), fluvoxamine
(LuvoxR), and paroxetine (PaxilR). Fungsi obat – obatan tersebut yaitu
mengurangi frekuensi perilaku obsesi dan kompulsif dengan mempengaruhi hormon
serotonin.
2. Terapi perilaku, Dalam terapi ini
sangat dibutuhkan kerjasama penderita dengan terapis dan kesabaran penderita
itu sendiri. Pendekatan yang sering digunakan adalah exposure and response
prevention, dalam pendekatan ini penderita dikonfrontasikan dengan kecemasannya
kemudian ketika perilaku obsesif kompulsif itu muncul maka perilaku tersebut
harus dicegah sampai beberapa jam kemudian hingga kecemasannya menurun.
Contohnya kebiasaan mencuci tangan setelah menyentuh berbagai benda, penderita
disuruh memegang benda – benda kemudian ketika perilaku mencuci tangan itu akan
muncul segera dicegah dengan mengikat tangannya atau menghalangi perilaku
mencuci tangan sampai keiinginannya tersebut hilang.
3. Terapi kognitif, yaitu dengan mengubah
kepercayaan dan pola pikir penderita yang negatif berkaitan dengan
kecemasannya. Melalui terapi ini dibangun pola pikir yang positip dalam diri
penderita sehingga kecemasannya dapat dihilangkan.
Treatmen
yang diberikan tidak semuanya efektif bagi penderita Gangguan Obsesif
Kompulsif, ada yang cocok dengan terapi perilaku, namun ada juga yang hanya
cocok dengan obat-obatan atau kedua – duanya sekaligus. Treatmen juga bisa
diberikan secara bertahap misalnya dengan terapi obat dulu untuk mengendalikan
simpton – simptonnya setelah itu baru dilanjutkan dengan pemberian terapi
perilaku.
Sosial
support dari keluarga sangat dibutuhkan juga dalam treatmen penderita gangguan
obsesif kompulsive ini misalnya memberikan perhatian dan kesabaran dalam
berhubungan dengannya, membantu memberikan arahan yang positip dan menolak
berpartisipasi dalam perilaku obsesif kompulsif penderita tersebut. Dalam film
ini terlihat bahwa hubungan atau relasi dengan orang lain yang dekat dapat
mengubah atau mengurangi perilaku obsesi kompulsifnya.
|
No.
|
Nama Kelompok
|
NPM
|
|
1.
|
Alifah Nurul Hazhiyah
|
10514855
|
|
2.
|
Fajar Surya Hidayat
|
13514887
|
|
3.
|
Khadar Ari Permana
|
15514839
|
|
4.
|
Regatin Monliya Utpa
|
1C514754
|
Mata Kuliah : Kesehatan Mental
Dosen : Nurul Huda

Komentar
Posting Komentar