Perbedaan Antara Psikoterapi dengan Konseling
A.
Psikoterapi
Menurut Gunarsa (2007),
psikoterapi lahir pada pertengahan dan akhir abad yang lalu, dilihat secara
etimologis mempunyai arti sedrhana, yakni “psyche” yang artinya je;as, yaitu
“mind’ atau sederhannaya: jiwa dan “therapy” dari Bahasa Yunani yang berarti “merawat”
atau “mengasuh”, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah “perawatan
terhadap aspek kejiawaan” seseorang.
Menurut Wolberg (dalam Gunarsa,2007)
psikoterapi adalah suatu bentuk dari perawatan (treatment) terhadap maslaah-masalah yang dasarnya emosi,
dimana seorang yang terlatih, dengan saksama membentuk hubungna profesional
dnegna pasien dnegan tujuan memindahkan, mengubah atau mencegah munculnya
gejala dan menjadi perantara untuk menghilangkan pola-pola perilaku yang
terhambat serta meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan positif dari
kepribadiannya.
Ciri-ciri Psikoterapi
Menurut Eysenck (1961), ada beberapa ciri dalam psikoterapi yakni:
1. Hubungan antar perorangan yang berlangsung lama.
2. Melibatkan seseorang yang terlatih.
3. Adanya ketidak puasan pada diri klien tentang
sesuatu yang emosional atau penyesuaian diri.
4. Pemakaian metode psikologi.
5. Aktivitas yang mendasarkan pada teori tentang
kelainan mental.
6. Melalui hubungan yang dilakukan, bertujuan
memperbaiki ketidak puasannya terhadap diri sendiri.
B.
Konseling
Dilihat dari sjarahnya,
konseling berkaitan erat dengan pemberian nasihat. Suatu keinginan untuk
membantu orang lain dengan memberikan nasihat, namun kenyataannya tidak
sesederhana sebagaimana diperkirakan.
Pada tahun 1958, English
& English merumuskan konseling adalah hubungan pada mana seseorang berusaha
membantu orang lain untuk memahami dan memecahkan penyesuaian. Misalnya,
konseling dalam bidang pendidikan, jabatan dan sosial.
Ciri-ciri
Konseling
Mengenai ciri-ciri dari
konseling, Patterson (1973) memperinci ciri-ciri dari konseling sebagai berikut:
1. Konseling
berkaitan dengan mempengaruhi secara sengaja perubahan perilaku pada sebagian
daripada klien.
2. Tujuan dari
konseling adalah untuk membuat kondisi yang memudahkan terjadinya perubahan
yang disengaja pada sebagian dari diri klien.
3. Seperti halnya
pada semua hubungan, pada klien harus ada pembatasan-pembatasan.
4. Kondisi yang
mempermudah terjadinya perubahan perilaku diperoleh melalui wawancara.
5. Mendengarkan
harus ada pada konseling, tetapi tidak semua konseling adalah mendengarkan.
6. Konselor harus
memahami kliennya.
7. Konseling
dilakukan dengan tertutup dan diskusi bersifat rahasia.
Tujuan
Konseling
Menurut George &
Cristiani (1981) tujuan utama suatu konseling, sebagai berikut:
1. Menyediakan
fasilitas untuk perubahan perilaku.
2. Meningkatkan
keterampilan untuk menghadapi sesuatu.
3. Meningkatkan
kemampuan dalam menentukan keputusan.
4. Meningkatkan dalam
hubungan antar perorangan.
5. Menyediakan
fasilitas untuk pengembangan kemampuan klien.
C.
Perbedaan Antara
Psikoerapi dengan Konseling
Hahn & MacLean (1955),
mengemukakan mengenai tujuan konseling yakni menitikberatkan pada upaya
pencegahan agar penyimpanan yang merusak dirinya tidak timbul. Sedangkan
psikoterapi terlebih dahulu menangani penyimpangan yang merusak dan baru
kemudian menangani usaha pencegahannya. Mereka juga mengemukakan bahwa
konseling berhubungan dengan rencana jangka panjang yang bersangkut-paut dengan
pendidikan dan pekerjaan atau jabatan seseorang serta pencegahan terhadap
munculnya gangguan dalam bidang kesejahteraan mental, sedangkan psikoterapi
singkatnya berhubungan dengan tujuan penyembuhan.
Menurut Mowrer (1953),
konseling berhubungan dengan usaha mengatasi klien yang mengalami gangguan
kecemasan biasa. Sedangkan psikoterpi berusaha menyembuhkan klien atau pasien
yang menderita neurosis-kecemasan.
Mengenai metode perbedaan
antara keduanya sebenarnya tidak terlalu besar, demikian diucapkan oleh
Patterson (1959), karena beberapa metode pada masing-masing seperti penciptaan rapport, peranan klien dan arah hubungan
atau pendekatan, kesemuanya dipakai oleh keduanya.
Perbedaan mengenai metode
ini kemudian di ringkas oleh Steffler & Grent (1972) sebagai berikut:
Konseling ditandai oleh jangka waktu yang lebih singkat, lebih sedikit waktu
pertemuannya, lebih banyak melakukan evaluasi psikologis, lebih memperhatikan
masalah sehari-hari klien, lebih memfokuskan pada aktivitas kesadaran, lebih
memberikan nasihat, kurang berubungan dengan transferens, lebih menekankan pada
situasi yang riil, lebih kognitif dan berkurang intensitas emosi, lebih
menjelaskan atau menerangkan dan lebih sedikit kekaburannya.
Untuk mengakhiri uraian ini,
dan memudahkan memperoleh gambaran yang lebih baru mengenai perbedaan konseling
dan psikoterapi, dikutip uraian dari Brammer & Shostrom (1977) dan Thompson
& Rudolph (1983).
Brammer & Shostrom
(1977) mengemukakan bahawa:
1. Konseling
ditandai oleh adanya terminology seperti: “educational,
vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness,
normal, present-time dan short-term”.
2. Sedangkan
psikoterapi ditandai oleh: “supportive (dalam
keadaan krisis), reconstructive, depth
emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional
problems and long-term”.
Perbedaan konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh
Pallone (1977) dan Patterson (1973) yang dikutip oleh Thompson & Rudolph
(1983), sebagai berikut:
Konseling
|
Psikoterapi
|
Klien
|
Pasien
|
Gangguan
yang kurang serius
|
Gangguan
yang serius
|
Masalah: jabatan, pendidikan
|
Masalah
kepribadian dan pengambilan keputusan
|
Berhubungan
dengan pencegahan
|
Berhubungan
dengan penyembuhan
|
Lingkungan
pendidikan dan nonmedis
|
Lingkungan
medis
|
Berhubungan
dengan kesadaran
|
Berhubungan
dengan ketidaksadaran
|
Metode
pendidikan
|
Metode
penyembuhan
|
Sumber:
Gunarsa,S.D,.(2007). Konseling dan
psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia

Komentar
Posting Komentar