Wujud Kebudayaan

Menurut Koentjaraningrat(1990) Talcott Parsons dan A.L Kroeber pernah menganjurkan untuk membedakan secara tajam wujud kebudyaan sbagai suatu rangkaian, tindakan dan aktivitas manusia yang berpola.
3 gejala kebudayaan menurut J.J Honigman
1.      Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide gagasan,nilai-nilai,norma-norma, peraturan dan sebagainnya.
2.      Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3.      Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud pertama adalah wujud ideal dari kebudayaan. Sifatnya abstrak, tak dapat diraba atau difoto. Lokasinya ada di dalam kepala-kepala, atau dengan perkatan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Kalau warga masyarakat tadi menyatkan gagasan mereka tadi dalam tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal sering berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat bersangkutan. Sekarang kebudayaan ideal juga banyak tersimpan dalam disk, arsip, koleksi microfilm dan microfish, kartu komputer,silinder, dan pita komputer.
Ide-ide dan gagasan manusia banyak yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, memberi jiwa pada masyarakat itu. Gagasan-gagasan itu tidak berada lepas satu dari yang lain, melainkan selalu berkaitan, menjadi suatu sistem. Para ahli antropologi dan sosiologi sistem ini sistem budaya. Dalam bahasa Indonesia terdapat juga istilah lain yang sangat tepat untuk menyebut wujud ideal dari kebudayaan ini, yaitu adat, atau adat-istiadat untuk bentuk jamaknya.
Wujud kedua dari kebudayaan yang disebut sistem sosial atau social system, mengenai tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan serta bergaul atau dengan lain dari detik ke detik, dari hari ke hari, dan dari tahun ke tahun, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sebagai rangkaian aktivitas manusia-manusia dalam suatu masyarakat, sistem sosial itu bersifat konkret, terjadi di sekeliling kita sehari-hari, bisa diobservasi, di foto, dan di dokumentasi.
Wujud ketiga dari kebudayaan disebut kebudayaan fisik dan tak memerlukan banyak penjelasan. Karena berupa seluruh total dari hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat, maka sifatnya paling konkret dan beeruap benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat dan di foto. Ada benda-benda yang sangat besar seperti pabrik baja : ada benda-benda yang sangat kompleks dan canggih, seperti komputer berkapasitas tinggi; atau benda-benda yang besar dan bergerak, suatu kapal tangki minyak ; ada bangunan hasil seni arsitek seperti suatu candi yang indah; atau ada pula benda-benda kecil seperti kain batik, atau yang lebih kecil  lagi yaitu kancing baju.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa wujud pertama berhubungan dengan segala yang ada pada pikiran manusia di dalam masyarakat. Wujud kedua berhubungan dengan segala tingkah laku manusia dan wujud ketiga berhubungan dengan benda-benda nyata yang dapat dilihat keberadaannya.

Komentar

Postingan Populer